ARTO vs SUPA: Bank Digital Mana yang Diam-Diam Paling Berpotensi Meledak di 2025?

Di pasar modal Indonesia, sektor perbankan digital menjadi salah satu sorotan utama investor retail dan institusional. Dua nama yang kini sering dibicarakan adalah Bank Jago (ARTO) dan Super Bank (SUPA) — yang meskipun sama-sama bermain di ranah digital, menampilkan profil yang sangat berbeda di mata pasar saham.

SUPA: Bank Digital “Value Play” dengan Valuasi Kompetitif

PT Super Bank Indonesia Tbk (kode saham SUPA) mencuri perhatian setelah selesainya IPO pada akhir 2025. Perusahaan ini menetapkan harga penawaran perdana sebesar Rp635 per saham, dan sejumlah analis menyebut bahwa valuasi ini relatif kompetitif dibandingkan bank digital lain yang sudah tercatat di Bursa Efek Indonesia — termasuk ARTO dan beberapa bank digital besar lainnya.

Dengan rasio price to book value (PBV) sekitar 2,64 kali dari harga IPO, SUPA disebut sebagai salah satu bank digital dengan valuasi yang menarik dari sisi buku nilai ekuitas, terutama jika dibandingkan dengan bank digital lain yang secara historis mencatat PBV lebih tinggi.

Selain valuasi, data awal juga menunjukkan bahwa kinerja SUPA menunjukkan pertumbuhan laba serta ekspansi kredit yang agresif, termasuk laba sebelum pajak yang mulai naik pasca-IPO.

ARTO: Pemain Established dengan Fundamental Kuat

Sementara itu, PT Bank Jago Tbk (ARTO) sudah lebih dahulu tercatat di bursa dan dikenal sebagai salah satu pelopor bank digital di Indonesia. Laporan data keuangan terbaru menunjukkan bahwa ARTO berhasil mencatat pertumbuhan laba bersih yang signifikan pada tahun 2025, dengan pertumbuhan kredit yang stabil dan rasio kualitas asset yang terjaga dalam batas aman.

Meskipun ARTO sempat mengalami penurunan harga saham year-to-date, fundamentalnya — seperti peningkatan pendapatan bunga dan ekspansi kredit — menunjukkan bahwa bank ini terus memperkuat kapasitas operasionalnya dalam menghadapi persaingan di sektor digital.

Valuasi dan Rasio Harga: Menarik atau Tidak?

Salah satu cara utama investor menilai saham bank digital adalah melalui rasio valuasi seperti PBV dan PER. Data terbaru menunjukkan:

  • SUPA memiliki evaluasi PBV sekitar 3,29–4,35 kali mengacu pada harga IPO dan ekuitas, bergantung pada rentang harga penawaran.
  • ARTO memiliki PBV sekitar 2,84 kali dan PER lebih moderat dibandingkan SUPA ketika membandingkan data keuangan emiten bank digital lainnya.

Angka PBV yang lebih rendah pada SUPA dapat dilihat sebagai tolok ukur bahwa saham ini relatif lebih murah dibandingkan bank digital lain yang telah mapan, sementara valuasi ARTO menunjukkan premium yang mencerminkan ekspektasi pertumbuhan yang lebih stabil ataupun kepercayaan pasar terhadap kinerja historisnya.

Bagaimana Investor Melihatnya?

Profil SUPA sebagai bank digital yang baru IPO, dengan valuasi yang lebih kompetitif, terlihat menarik bagi investor yang mengejar potensi kenaikan nilai saham (upside) jika kinerja bisnisnya berhasil terealisasi sesuai ekspektasi pasar. Sebaliknya, ARTO, sebagai bank digital yang lebih matang, sering dipandang sebagai pilihan yang lebih stabil dan defensif, cocok bagi investor yang mengutamakan fundamental dan track record.

Selain itu, data awal sekilas menunjukkan bahwa sektor bank digital di Indonesia secara keseluruhan masih berada dalam fase pertumbuhan, dengan total kredit yang meningkat dan aktivitas pasar modal yang dinamis pasca-IPO sejumlah bank digital baru.

Tiga Skenario Pertarungan ARTO vs SUPA

  1. Stable Growth Scenario
    ARTO mempertahankan posisi sebagai pemimpin bank digital mapan, sementara SUPA tumbuh perlahan dengan basis pengguna dan kredit yang berkembang.
  2. Value Momentum Scenario
    Investor pasar mengambil kesempatan valuasi SUPA yang murah, sementara ARTO bergerak stabil, menghasilkan gap return antara keduanya.
  3. Competitive Surge Scenario
    SUPA, didukung ekosistem digital kuat, berhasil mempercepat ekspansi kredit dan pendapatan, mendekati atau bahkan melampaui pertumbuhan ARTO dalam jangka menengah.

Kesimpulan: Dua Strategi, Dua Cara Bermain

Duel antara ARTO dan SUPA bukan sekadar duplikasi sektor, tetapi cerminan dua strategi investasi di era bank digital Indonesia:

  • ARTO sebagai pilihan bagi investor yang menghargai stabilitas dan track record historis,
  • SUPA sebagai pilihan bagi investor yang mencari value play dengan kemungkinan upside tinggi — namun tentu dengan risiko yang lebih besar.

Keduanya valid, tetapi pilihan akhirnya tergantung pada tujuan, horizon investasi, dan toleransi risiko investor.

Inspired by Data, Not Hype

Kalau pembahasan ini membuatmu ingin melihat pasar modal dengan kacamata yang lebih jernih — bukan sekadar menebak arah, tapi membaca pergerakan saham lewat data, riset, dan dinamika industri — barangkali ini juga saat yang tepat untuk menata ulang cara kamu mengambil jeda dari hiruk-pikuk pasar.

Dan kalau kamu juga butuh space to unwind setelah baca angka-angka dan skenario, ada platform yang mengkurasi akomodasi unik dan destinasi alam di seluruh Indonesia seperti PinginGO — lengkap dengan filter kenyamanan dan pengalaman.

Sumber Referensi

Berikut adalah semua sumber berita real dan terkini yang dipakai untuk artikel ini:

SUPA banderol IPO dan valuasi dibanding bank digital lain — Investing/Warta Ekonomi (2025) Investing.com Indonesia
Analisis valuasi dan PBV SUPA — Bareksa (2025) Bareksa.com
Profil IPO SUPA & kinerja pasca-IPO — EmitenNews (2025) Emiten News
Laba & kinerja keuangan SUPA — DigitalBank.id (2025) Digital Bank
Kinerja keuangan ARTO (Bank Jago) & bank digital lain — Ajaib/analisis pasar (2025) Ajaib – Pilihan #1 Investor Indonesia
Valuasi PBV & PER SUPA vs Digital Bank lain — IDNFinancials (2025) IDN Financials
Pertumbuhan kredit bank digital secara umum — Merdeka.com (2025) merdeka.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Popup Image